Ani Suryani wanita (berkerudung) saudara / bibi kandunggnya dekat almarhumah Pupung (29), pekerja migran asal Kampung Cimalang, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, saat menyampaikan harapan keluarga kepada pemerintah agar jenazah almarhumah dapat segera dipulangkan ke tanah air untuk dimakamkan di kampung halaman, (foto) Adhel.
Seorang pekerja migran perempuan asal Kabupaten Bandung Barat meninggal dunia di luar negeri setelah berulang kali meminta dipulangkan karena sakit. Keluarga kini hanya berharap negara hadir membantu pemulangan jenazah ke tanah air.
Bandung Barat - matakita.fun - Kisah pilu menimpa Pupung (26), seorang pekerja migran perempuan asal Kampung Cimalang, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Perempuan muda yang menggantungkan harapan hidup dengan bekerja di luar negeri itu kini telah meninggal dunia di tanah seberang, tanpa sempat kembali ke kampung halamannya seperti yang selama ini ia harapkan.
Bahwa kejadian jatuh ny itu sudah hampir setahun. Dan luka ny Path tulang bagian punggung
Jeritan keprihatinan datang dari Ani Suryani, saudara kandung korban. Kepada keluarga, Pupung semasa hidup kerap mengeluhkan kondisi kesehatannya yang terus menurun selama bekerja di kawasan Timur Tengah.
Dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir, Pupung disebut sering sakit dan berulang kali menyampaikan keinginannya untuk dipulangkan ke Indonesia.
“Adik saya sudah lama ingin pulang karena sakit. Dia sempat bilang sudah tidak sanggup lagi bekerja,” ujar Ani,
menuturkan kembali percakapan terakhir dengan korban.
Menurut Ani, pada tanggal 12 (bulan tidak disebutkan), Pupung sempat berkomunikasi dengan pihak terkait dan dijanjikan akan dipulangkan.
Namun hingga waktu yang disebutkan, kepulangan itu tak kunjung terealisasi. Informasi yang diterima keluarga menyebutkan adanya kendala administrasi, bahkan biaya pemulangan justru dibebankan kepada pihak Indonesia, bukan kepada majikan tempat korban bekerja.
Situasi semakin memburuk ketika pada tanggal 18, keluarga mendapat kabar dari salah satu teman korban bahwa Pupung dilarikan ke Rumah Sakit Abdul Aziz di Madinah.
Sebelumnya, korban diduga mengalami insiden terjatuh atau melompat dari lantai dua. Insiden tersebut menyebabkan kondisi kesehatannya menurun drastis.
Korban sempat menjalani tindakan medis, termasuk operasi. Beberapa luka serius di bagian mata dan dada harus dijahit. Ironisnya, informasi medis tersebut tidak disampaikan secara langsung oleh pihak rumah sakit maupun majikan kepada keluarga inti.
Kabar itu justru diterima melalui perantara teman korban dan disampaikan kepada paman korban, bukan kepada orang tua kandungnya.
Ani juga mengungkapkan dugaan bahwa selama hampir dua tahun bekerja, adiknya tidak menerima gaji sebagaimana mestinya.
Pupung sempat mengajukan permohonan pemulangan melalui perusahaan penyalur atau PT. Pihak PT bahkan disebut pernah menghubungi keluarga, namun hingga akhir, permohonan itu tidak pernah terwujud dengan alasan yang tidak dijelaskan secara rinci.
Kabar duka akhirnya diterima keluarga. Pupung dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 18. Hingga kini, jenazah korban masih berada di luar negeri.
Keluarga besar hanya berharap adanya perhatian dan bantuan nyata dari pemerintah agar jenazah Pupung dapat dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan di kampung halaman.
“Kami tidak menuntut apa-apa. Kami hanya ingin adik kami bisa pulang, meski sudah dalam keadaan tidak bernyawa,” tutur Ani Suryani dengan suara lirih.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya perlindungan menyeluruh bagi pekerja migran Indonesia, mulai dari proses penempatan, masa kerja, hingga kepastian perlindungan saat mereka sakit atau mengalami musibah di negeri orang.***
Sumber : Liputan
Pewarta : Adhel
Redaksi : R Taufiq Nugraha / Adhel

0 Komentar