Iklan

6/recent/ticker-posts

Dari Hobi Jadi Harapan: Angkringan “Cerita Kuping” Samangraya Jadi Ruang UMKM Muda Berkembang

angkringan Cerita Kuping di kawasan Samangraya, Banten, yang dikelola oleh pengusaha muda Tina Fatimah, (foto) Adhel.

Seorang pengusaha muda di Samangraya, Banten, membuktikan bahwa usaha sederhana seperti angkringan bisa tumbuh menjadi ruang ekonomi kreatif, sosial, dan pemberdayaan keluarga. Dikelola dengan hati, mengedepankan kehalalan dan kebersamaan, UMKM ini menyimpan harapan besar untuk berkembang dengan dukungan pemerintah.

Samangraya, Banten - matakita.fun - Di tengah geliat ekonomi lokal, sebuah angkringan sederhana bernama Cerita Kuping perlahan mencuri perhatian warga sekitar. 

Usaha yang baru berjalan sekitar tiga bulan ini dikelola langsung oleh Tina Fatimah, seorang pengusaha muda yang juga merangkap sebagai bendahara usaha. Meski masih tergolong baru, angkringan ini telah menjadi ruang berkumpul, berbagi cerita, sekaligus sumber penghidupan bagi keluarga pada, Rabu 24 Desember 2025 saat di wawancarai wartawan matakita.fun.

Tina Fatimah mengungkapkan bahwa usaha angkringan ini lahir dari keinginan sederhana: berjualan dengan rasa senang dan suasana yang hangat. 

“Aku suka jualan ini maunya senang-senang saja, kumpul, ngobrol. Yang penting halal masuknya,” ujarnya Tina saat ditemui pada Rabu, 24 Desember 2025.

Angkringan Cerita Kuping beroperasi mulai pukul 17.00 WIB hingga 03.00 WIB. Nama “Cerita Kuping” sendiri dipilih karena tempat ini menjadi ruang ngobrol bebas, tempat bertukar cerita dari mulut ke telinga, tanpa sekat. 

menyajikan menu andalan nasi goreng “nasi goreng nenek” serta berbagai hidangan angkringan, sekaligus menjadi wujud semangat UMKM lokal yang mengedepankan kehalalan, kebersamaan, dan pemberdayaan keluarga, (foto) Adhel.

Konsepnya mengusung gaya angkringan modern, mendekati nuansa resto sederhana namun tetap merakyat.

Menu andalan di tempat ini adalah nasi goreng yang dikenal dengan sebutan “nasi goreng nenek”. Menu tersebut menjadi favorit pelanggan karena cita rasanya yang khas dan porsi yang mengenyangkan. 

Selain itu, tersedia juga berbagai menu angkringan lainnya seperti gorengan dan minuman hangat yang cocok dinikmati hingga dini hari.

Angkringan ini menjadi ruang berkumpul warga dengan konsep sederhana namun hangat, (foto) Adhel.

Usaha ini mempekerjakan tiga orang karyawan yang merupakan orang-orang terdekat dan dipercaya, termasuk anggota keluarga. 

Salah satunya masih berstatus mahasiswa. Tina mengaku sengaja melibatkan keluarga agar usaha tetap terjaga kejujuran dan kekompakannya. 

“Soal keuntungan, aku nggak pernah terlalu hitung detail. Ini rezeki keluarga, yang penting cukup dan jalan,” tuturnya Tina.

Dalam menjalankan usaha, Tina juga memperhatikan aspek legalitas dan sosial. Sebelum membuka angkringan, ia telah meminta izin kepada lingkungan setempat, termasuk RT dan RW. 

Dukungan masyarakat pun cukup baik. Bahkan, kegiatan berbagi seperti “Jumat Berkah” rutin dilakukan sebagai bentuk rasa syukur.

Ke depan, Tina berharap usahanya bisa berkembang lebih besar dan terdaftar secara resmi sebagai UMKM. 

Ia membuka peluang untuk mengajukan program bantuan UMKM dari pemerintah, baik berupa permodalan maupun pembinaan. 

“Insyaallah ke depan pengin buka lagi di tempat lain. Kalau ada dukungan pemerintah, pasti lebih semangat,” katanya.

Angkringan Cerita Kuping menjadi contoh bahwa UMKM bukan sekadar usaha ekonomi, tetapi juga ruang sosial dan perjuangan keluarga. 

Dengan semangat kejujuran, kehalalan, dan kebersamaan, usaha kecil di Samangraya ini menyimpan potensi besar untuk tumbuh dan memberi dampak bagi lingkungan sekitar.***














Sumber   : Liputan
Pewarta  : Adhel
Redaksi  : R Taufiq Nugraha / Adhel

Posting Komentar

0 Komentar

Terkini