membentang dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang
Peta jalur Sesar Cimandiri menunjukkan bentangan sesar aktif sepanjang sekitar 100 kilometer yang melintasi wilayah rawan gempa di Sukabumi, Cianjur, hingga Bandung Barat.
Bandung - matakita.fun - Penelitian terbaru BRIN mengungkap karakter aktif Sesar Cimandiri yang membentang dari Pelabuhan Ratu hingga Padalarang pada Rabu, 28 Januari 2026.
Dengan panjang sekitar 100 kilometer, sesar ini menyimpan potensi gempa serius yang dapat mengancam Bandung Raya dan sekitarnya, sekaligus menjadi peringatan penting bagi mitigasi bencana di Jawa Barat.
Ancaman gempa bumi di wilayah Bandung Raya bukan sekadar isu spekulatif. Di balik bentang alam Jawa Barat yang tampak tenang, tersimpan aktivitas geologi yang berpotensi memicu bencana besar.
Salah satunya adalah Sesar Cimandiri, sesar aktif yang membentang sekitar 100 kilometer dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, hingga Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Fakta ini terungkap melalui penelitian mendalam yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG).
Penelitian bertajuk Geological and geomorphological insights into the Cimandiri Fault system tersebut dipimpin oleh Perekayasa Ahli Pertama BRIN, Putri Natari Ratna.
Hasil awal riset menunjukkan bahwa Sesar Cimandiri bukan hanya struktur geologi pasif, melainkan sesar aktif yang perlu diwaspadai.
Menurut Putri, meskipun kajian tentang Sesar Cimandiri telah dilakukan sejak lama, sebagian besar hasilnya masih bersifat parsial.
Hal inilah yang mendorong BRIN melakukan penelitian komprehensif dengan pendekatan multidisiplin untuk memahami karakter, sejarah, serta potensi pergerakan sesar secara lebih akurat.
Dalam riset ini, BRIN memadukan pendekatan geologi, geofisika, dan geodesi. Tim peneliti melakukan observasi lapangan untuk mengidentifikasi bukti fisik aktivitas sesar, seperti pergeseran lapisan batuan dan cermin sesar yang menandakan adanya pergerakan kerak bumi di masa lalu maupun kini.
Pendekatan geodesi dilakukan melalui pengukuran Global Positioning System (GPS) di 24 titik yang tersebar di sekitar jalur sesar.
Pengambilan data dilakukan selama 36 jam setiap tahun dan direncanakan berlangsung hingga lima tahun. Data ini akan digunakan untuk mengetahui arah, laju, dan besaran deformasi tanah di sekitar Sesar Cimandiri.
Sementara itu, kajian geofisika menelusuri rekam jejak kegempaan di kawasan tersebut.
Catatan sejarah menunjukkan wilayah Cimandiri pernah diguncang gempa bermagnitudo lebih dari 5 pada tahun 1982 dan 2000.
Bahkan, pada masa kolonial, gempa besar yang dipicu sesar ini tercatat meluluhlantakkan pemukiman serta merusak jalur kereta api di wilayah Sukabumi, Cianjur, hingga Rajamandala.
Untuk memperkuat akurasi pemetaan, BRIN memanfaatkan teknologi mutakhir seperti LiDAR, drone survei, dan SLAM LiDAR.
Teknologi ini memungkinkan pemodelan tiga dimensi singkapan batuan secara detail, sehingga jalur sesar dapat dipetakan dengan presisi tinggi.
Hasil penelitian ini dinilai krusial bagi mitigasi bencana di Jawa Barat.
Selain potensi gempa darat, terdapat kemungkinan tsunami lokal apabila jalur sesar menerus ke laut dan memicu longsoran bawah laut.
Oleh karena itu, pemutakhiran peta sumber gempa menjadi kebutuhan mendesak.
Putri menegaskan, temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun tata ruang, perencanaan infrastruktur, serta edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi lintas lembaga nasional dan internasional, termasuk ITB, BMKG, BIG, BPBD, hingga mitra dari Inggris, yang memperkuat kapasitas riset kebencanaan Indonesia.***
Sumber : Liputan
Pewarta : Adhel
Editor : R Taufiq Nugraha / Adhel

0 Komentar